Mitembeyan Hari Jadi Purwakarta ke-195 dan Kabupaten ke-58: Mengawali Rangkaian dengan Doa dan Tradisi "Muru Indung Cai"
- Senin, 15 Jun 2026
- Administrator
- 2 Membaca
Purwakarta – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purwakarta secara resmi memulai seluruh rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Purwakarta ke-195 dan Kabupaten Purwakarta ke-58 Tahun 2026. Pembukaan rangkaian acara ini ditandai dengan menggelar tradisi Mitembeyan yang berpusat di Masjid Agung Syekh Baing Yusuf, Purwakarta.
Kegiatan Mitembeyan berlangsung dengan penuh khidmat, diisi dengan lantunan selawat, zikir, doa bersama, serta ziarah ke makam ulama besar Purwakarta, Syekh Baing Yusuf.
Usai pelaksanaan Mitembeyan, prosesi adat dilanjutkan dengan ritual "Muru Indung Cai" (Menuju Sumber Air). Tradisi pengambilan air ini dilakukan mengalir dari Situ Buleud menuju Sumber Mata Air Cibulakan. Prosesi budaya ini diikuti secara langsung oleh jajaran Forkopimda, para Aparatur Sipil Negara (ASN), camat, kepala desa, tokoh adat, serta perwakilan dari berbagai lapisan masyarakat.
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, dalam sambutannya menegaskan bahwa Muru Indung Cai bukan sekadar seremonial tahunan yang sifatnya menggugurkan kewajiban. Lebih dari itu, tradisi ini harus menjadi refleksi dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga kelestarian lingkungan.
"Air bisa tetap ada meskipun kita tidak ada, tetapi kita tidak akan bisa ada tanpa air. Bumi ini, salah satu tuan rumah utamanya adalah air. Dari total air di dunia, 97 persen ada di laut, 2 persen membeku, dan yang kita gunakan sehari-hari untuk minum, mandi, dan kebutuhan lainnya itu hanya 1 persen. Termasuk yang ada di Cibulakan," ujar Bupati yang akrab disapa Om Zein tersebut menggunakan bahasa Sunda.
Bupati juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan alam seperti yang telah diajarkan oleh para leluhur terdahulu. Ia menekankan bahwa pembangunan infrastruktur yang megah akan menjadi sia-sia jika sumber daya air dan alam dirusak.
"Mengapa setiap tahun dalam hari jadi Purwakarta kita selalu melaksanakan Muru Indung Cai? Tujuannya supaya mata air kita tetap dijaga, jangan dirusak. Kuncinya, hutan harus tetap ada, tebing harus tetap ditanami bambu. Jika hutan dirusak, hidup kita akan sengsara. Percuma kita membangun bangunan megah sekarang, tapi gunung dirusak, pohon bambu di tebing habis, sawah dan kolam hilang. Pembangunan kita akan mubazir," tambahnya.
Melalui momentum Hari Jadi tahun ini, Pemkab Purwakarta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali pada kearifan lokal dalam menjaga hutan, tebing, lembah, dan aliran air demi keberlangsungan hidup generasi masa depan. (Diskominfo Purwakarta)
Bagikan